Kegiatan LSMI Al-Istiqomah

Sebuah Nasihat: Yuk Tempuh Jalur yang Sesuai Syar’iat dalam Menghadapi UAS!

 

WhatsApp Image 2018-01-06 at 16.10.52

Bismillah

Tak terasa sebentar lagi para mahasiswa khususnya dilingkungan Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura akan menjalani Ujian Akhir Semester. Budaya jelek yang masih laris di tengah-tengah mahasiswa secara umum adalah menyontek atau membawa “kepekan” kertas berisi rangkuman saat masuk ke ruang ujian atau bahkan memanfaatkan teknologi yang ada seperti smartphone demi mempermudah untuk mencari jawaban dari soal yang ada.

Kiat-Kiat yang dapat dilakukan mahasiswa agar mendapatkan hasil ujian yang maksimal dan terhindar dari buruk nya perilaku mencontek:

[1]. Berdoalah kepada Allah meminta yang terbaik dalam hal apapun termasuk hasil ujian

Rasulullah sendiri mengajarkan kepada keponakannya yang masih kecil agar hanya meminta dan memohon kepada Allah, “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” [Riwayat At Tirmidzi. Beliau berkomentar, “(Hadits ini) hasan shahih.”]
Jika anak kecil saja diajarkan seperti itu, bagaimana yang lainnya? Tentu lebih lagi.

Penuh yakinlah bahwa Allah akan kabulkan setiap do’a. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

[2]. Melakukan persiapan yang matang sebelum ujian misalnya, belajar jauh-jauh hari sebelum ujian, istirahat yang cukup, dan usaha lain yang dapat kita usahakan sesuai dengan syari’at

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[12]

Al Munawi mengatakan, ”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan usaha. Tawakkal haruslah dengan melakukan berbagai usaha yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha. Sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki.”[13]

Burung saja dalam mencari rezeki perlu bersusah payah dengan mulai mencari makanan dari pagi hari dan kembali pada sore harinya, apalagi kita sebagai manusia yang Allah ciptakan kita dengan segala kesempurnaan-Nya, tentunya kita harus melakukan usaha yang lebih dibandingkan burung.

[3]. Setelah berusaha semaksimal mungkin, serahkan sisanya kepada Allah karena Allah Maha Tau mana yang terbaik bagi setiap hamba-Nya

Jalan meraih sukses dengan pasti adalah dengan bertakwa dan bertawakkal pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ayat yang bisa menjadi renungan bagi kita bersama adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

[4]. Jika gagal jangan mencela takdir Allah bangkitlah dan teruslah berusaha , teruslah berkhusnudzon kepada allah, karena disetiap takdir memiliki hikmah tersendiri bagi setiap hamba-Nya agar dapat dipetik pelajaran (ibrah)

Ketahuilah setiap yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun yang lalu sebelum penciptaan langit dan bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Jika seseorang mengimani takdir ini dengan benar, maka ia pasti akan memperoleh kebaikan yang teramat banyak. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94) [4]

Yang Allah takdirkan tidaklah sia-sia. Pasti ada hikmah di balik itu semua. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)

Sumber :
Gabungan beberapa artikel dari rumaysho.com dan muslim.or.id

Kajian Rutin Pembahasan Kitab Tauhid Al-Ushul Ats-Tsalatsah

WhatsApp Image 2018-01-03 at 13.22.43

Bismillahi wash-sholatu wassalamu’ala rosulillah wa ba’du.


Jika ditanyakan kepadamu : Apa tiga landasan utama yg wajib diketahui setiap orang ?
Jawabannya : Bahwa seorang hamba wajib mengenal Rabb-nya, agamanya dan Nabinya, Muhammad Shalallahu’alayhi wasallam

Alhamdulillah memasuki pekan ke 8, Kajian pembahasan kitab Al Ushulu Ats-Tsalatsah (3 landasan utama) yg wajib diketahui seorang muslim dan muslimah. Oleh Ustadz Abu Nasyitha Ridwan ~hafidzahullahu-. Insyaallah akan dilanjutkan kembali pembahasannya tentang  setiap muslim dan muslimah wajib mempelajari tiga hal yaitu seorang mengenal Rabb-nya, Agamanya, dan Nabinya, Muhammad Shalallahu’alayhi wasallam

☝pada hari kamis, 4 Januari 2018
☝pukul 16.00
☝di musholla Al-Istiqomah [FT UNTAN].

Insyaa Allah kami menyediakan buku terjemahan (al ushulu ats-tsalatsah = 3 landasan utama karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) sebagai buku pegangan peserta kajian.

Jangan lupa akhi wa ukhty, untuk membawa buku pegangannya dan menghafal matan pada halaman 53 sampai halaman 51 (yg akan dilanjutkan pembahasannya insyaa Allah), yang bertuliskan arab. Insyaallah akan di cek hafalannya.

Jgn lupa bawa media untuk mencatat..

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi)

Semoga Allah mudahkan jalan kita menuju majelis-majelis ilmu ^^ Jazaakumullahu khoyron.

Kajian ini diselenggarakan oleh Lsmi Al- Istiqomah
#silahkaninfokanke yang lain
#sebarkankebaikan
#BerilmuSebelumBerkatadanBeramal

Kajian Islam Ilmiah

WhatsApp Image 2017-12-20 at 07.48.29

Bismillah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebentar lagi kita akan menyaksikan perayaan besar tahun baru yaitu pergantian dari tahun 2017 menjadi 2018, perayaan yang dilakukan oleh masyarakat di seluruh dunia. Bagaimana hukum merayakan tahun baru bagi muslim?
Darimanakah tradisi perayaan tahun baru berasal ?

Untuk Selengkapnya, Hadirilah dengan mengharap ridho Allah
Kajian Islam Ilmiah “Ada apa di Tahun Baru”
☝hari/tanggal : Rabu 2 rabi’ul akhir 1439 H / 20 Desember 2017
☝pukul : 16.00 s/d selesai
☝tempat : mushola LSMI Al-Istiqomah

Syukron Jazakumullahu Khoiran Katsiran.

STUDIUM GENERAL #3 STUDIKA 2017

OUTBOND

Bismillah..
Diberitahukan kepada adik-adik Mahasiswa Baru 2017 Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, bahwa pada :
Hari/tgl :Minggu, 17 Desember 2017
Pukul : 06.30 WIB – Selesai
lokasi : kumpul di Musholla Al-Istiqomah FT-UNTAN

InsyaAllah akan dilaksanakan STUDIUM GENERAL #3 STUDIKA 2017, dengan agenda Outbond…
Diharapkan adik-adik dapat mengikuti kegiatan tersebut sampai selesai, dan di ajak lagi kawan-kawannya.. Bagi yg mau bertanya, bisa langsung menghubungi nomor Hp yg ada di poster atau famplet…

Syukron jazakumullahu khoiran katsiran

[Poster Dakwah] HUKUM BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN

prasangka2

[Poster Dakwah]

HUKUM BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [1]

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Selengkapnya: https://almanhaj.or.id/3196-hukum-berburuk-sangka-dan-mencari-cari-kesalahan.html

[Poster Dakwah] KEMATIAN YANG KEMBALI MENYADARKAN KITA

mati

[Poster Dakwah]

KEMATIAN YANG KEMBALI MENYADARKAN KITA

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, penyadar dari kelalaian kita. Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.

Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca pada link dibawahi ini :

Sumber : https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html

[Read & Do] Ucapkanlah Salam & balaslah dengan ucapan yang lebih baik

salam

[Read & Do]

” Ucapkanlah Salam & balaslah dengan ucapan yang lebih baik”

Mengucapkan ucapan salam adalah suatu hal yang dianjurkan bagi sesama muslim. Bahkan saling mengucapkan salam akan menimbulkan kecintaan antara sesama muslim. Dalam hadits disebutkan, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim no. 54)

Ada suatu pelajaran menarik dari Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad. Beliau memberi judul bab dalam kitabnya ‘Fasal: Petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membalas do’a.’ Beliau menyebutkan penjelasan berikut ini.

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengucapkan ucapan salam hingga “ … wa barakaatuh”.

Disebutkan dalam sunan An Nasai, ada seseorang mendatangi beliau lantas mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat 10.” Lalu orang tadi pun duduk. Kemudian datang yang lainnya lantas mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum wa rahmatullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas salam orang tersebut dan bersabda, “Engkau mendapat 20.” Kemudian ia pun duduk. Lantas ada yang lainnya lagi datang dan mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda, “Engkau mendapat 30.” Hadits ini diriwayatkan oleh An Nasai dan Tirmidzi dari hadits ‘Imran bin Hushain, dan beliau menghasankannya (Zaadul Ma’ad, 2: 361).

Dari penjelasan hadits menunjukkan bahwa lebih sempurna dalam mengucapkan salam, maka lebih baik. Dan hadits ini juga menunjukkan dituntunkannya membalas do’a ketika ada yang mendo’akan sebagaimana dapat kita ambil pelajaran dari judul bab yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Namun satu point yang mesti diingat, yaitu jika ada yang mengucapkan salam, maka tidak boleh menjawab dengan yang lebih rendah, minimal dengan yang semisal atau dengan yang lebih baik. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86). Jadi yang dituntunkan jika ada yang mengucapkan salam “assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”, balaslah dengan yang lebih baik “assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh” atau minimal sama, “assalamu ‘alaikum wa rahmatullah.”

Sumber : https://rumaysho.com/2677-lebih-sempurna-dalam-salam-lebih-baik.html

[Poster Dakwah] Luruskan Niat Lillahi Ta’ala

22406119_972387419567396_7207697487731750228_n

[Poster Dakwah]

” Luruskan Niat Lillahi Ta’ala”
Niat punya peranan penting dalam setiap ibadah termasuk dalam sedekah. Ada kisah dalam hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab yang sudah sangat masyhur di tengah-tengah kita yaitu kitab Riyadhus Sholihin. Kisah ini berkaitan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap amalan itu tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422).

Kisah di atas menceritakan bahwa ayah Ma’an (Yazid) ingin bersedekah kepada orang fakir. Lantas datang anaknya (Ma’an) mengambil sedekah tersebut. Orang yang diwakilkan uang tersebut di masjid tidak mengetahui bahwa yang mengambil dinar tadi adalah anaknya Yazid. Kemungkinan lainnya, ia tahu bahwa anak Yazid di antara yang berhak mendapatkan sedekah tersebut. Lantas Yazid pun menyangkal dan mengatakan bahwa uang tersebut bukan untuk anaknya. Kemudian hal ini diadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun bersabda, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati”.

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Setiap amalan tergantung pada niatan setiap orang. Jika seseorang telah meniatkan yang baik, maka ia akan mendapatkannya. Walaupun Yazid tidak berniat bahwa yang mengambil uangnya adalah anaknya. Akan tetapi anaknya mengambilnya dan anaknya tersebut termasuk di antara orang-orang yang berhak menerima. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan.”

2- Setiap orang akan diganjar sesuai yang ia niatkan walaupun realita yang terjadi ternyata menyelisihi yang ia maksudkan. Termasuk dalam sedekah, meskipun yang menerima sedekah adalah bukan orang yang berhak.

Untuk selengkapnya mungkin dapat dibaca di link dibawah ini :

Sumber : https://rumaysho.com/3361-setiap-amalan-tergantung-pada-niat.html

[Read & Do] Jangan Tinggalkan Shalat

21740535_1303450549781981_3132968640473667279_n

[Read & Do]

“Jangan Tinggalkan Shalat”

Telah dijelaskan bahwa shalat merupakan tiang agama dan merupakan pembeda antara muslim dan kafir. Lalu bagaimanakah hukum meninggalkan shalat itu sendiri, apakah membuat seseorang itu kafir?

Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa dosa meninggalkan shalat lima waktu lebih besar dari dosa-dosa besar lainnya. Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah– mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”

Adapun berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat, kami dapat rinci sebagai berikut:

Kasus pertama: Meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.

Kasus kedua: Meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in. Contoh hadits mengenai masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”(HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)

Kasus ketiga: Tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah (Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya).

Kasus keempat: Meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.

Kasus kelima: Mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5)

Sumber : https://remajaislam.com/49-jangan-sampai-tinggalkan-shalat-lima-waktu.html

Kajian Rutin Pembahasan Kitab Tauhid Al-Ushul Ats-Tsalatsah

8

Bismillahi wash-sholatu wassalamu’ala rosulillah wa ba’du.

*Jika ditanyakan kepadamu : Apa tiga landasan utama yg wajib diketahui setiap orang ?*
*Jawabannya : Bahwa seorang hamba wajib mengenal Rabb-nya, agamanya dan Nabinya, Muhammad Shalallahu’alayhi wasallam*

Alhamdulillah memasuki pekan ke 8, Kajian pembahasan kitab Al Ushulu Ats-Tsalatsah (3 landasan utama) yg wajib diketahui seorang muslim dan muslimah. Oleh Ustadz Ridwansyah S S.Pd.I ~hafidzahullahu-. Insyaallah akan dilanjutkan kembali pembahasannya tentang setiap muslim dan muslimah wajib mempelajari tiga hal yaitu seorang mengenal Rabb-nya, Agamanya, dan Nabinya, Muhammad Shalallahu’alayhi wasallam


pada hari kamis, 14 Desember 2017
pukul 16.00
di musholla Al-Istiqomah [FT UNTAN].

Insyaa Allah kami menyediakan buku terjemahan (al ushulu ats-tsalatsah = 3 landasan utama karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) sebagai buku pegangan peserta kajian.

Jangan lupa akhi wa ukhty, untuk membawa buku pegangannya dan menghafal matan pada halaman 53 sampai halaman 51 (yg akan dilanjutkan pembahasannya insyaa Allah), yang bertuliskan arab. Insyaallah akan di cek hafalannya.

 Jgn lupa bawa media untuk mencatat..

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi)

Semoga Allah mudahkan jalan kita menuju majelis-majelis ilmu ^^ Jazaakumullahu khoyron.

Kajian ini diselenggarakan oleh *Lsmi Al- Istiqomah*
#silahkaninfokanke yang lain
#sebarkankebaikan
*#BerilmuSebelumBerkatadanBeramal*